Jumat, 23 September 2011

KEPEMIMPINAN


1.      Jelaskan pengertian kepemimpinan Transformasional, dan hal-hal apakah yang menjadi target kepemimpinannya. Berilah contoh tipe kepemimpinan ini.
Jawab:
      Kepemimpinan transformasional merupakan sebuah proses di mana para pemimpin dan pengikut saling menaikkan diri ketingkat moralitas dan motivasi yang lebih tinggi.
Menurut Burn menstranformasi kepemimpinan mempunyai ciri sbb.:
a)      Antara pemimpin dan pengikut mempunyai tujuan bersama yang melukiskan nilai-nilai, motivasi, keinginan, kebutuhan, aspirasi dan harapan mereka. Pemimpin melihat tujuan itu dan bertindak atas namanya sendiri dan atas nama para pengikutnya.
b)      Walaupun pemimpin dan pengikut mempunyai tujuan bersama akan tetapi level motivasi dan potensi mereka untuk mencapai tujuan tersebut berbeda.
c)      Kepemimpinan menstransformasi berusaha mengembangkan sistem yang sedang  berlangsung dengan mengemukakan visi yang mendorong berkembangnya masyarakat baru. Visi ini menghubungkan pemimpin dan pengikut dan kemudian menyatukannya. Keduanya saling mengangkat ke level yang lebih tinggi menciptakan moral yang makin lama makin meninggi. Kepemimpinan menstrasnformasi merupakan kepemimpinan moral yang meningkatkan perilaku manusia.
d)     Kepemimpinan menstransformasi akhirnya mengajarkan kepada para pengikut bagaimana menjadi pemimpin dengan melaksanakan peran aktif dalam perubahan. Keikutsertaan ini membuat pengikut menjadi pemimpin. terlaksananya nilai-nilai akhir meliputi yang meliputi kebebasan, kemerdekaan, persamaan dan persaudaraan dalam masyarakat.
      Para pemimpin transformasional mencoba menimbulkan kesadaran para pengikut dengan menyerukan cita-cita yang lebih tinggi dan nilai-niali moral seperti kemerdekaan, keadilan dan kemanusiaan, bukan didasarkan atas emosi seperti keserakahan, kecemburuan atau kebencian. Kepemimpinan transformasional berkaitan dengan nilai-nilai yang relevan bagi proses pertukaran (perubahan), seperti kejujuran, keadilan dan tanggung jawab yang justru nilai seperti ini hal yang sangat sulit ditemui di Indonesia.

2.      Untuk melihat atau menentukan corak/ gaya yang dimiliki oleh seorang pemimpin dalam melaksanakan kepemimpinannya, dapat dilihat dari aspek apa saja? Dan bagaimana macam gaya dimungkinkan terjadi?
Jawab:
      Seorang pemimpin akan berhasil jika ia mempunyai pola berpikir untuk melayani bukan berpikir untuk dilayani.dalam konsep umum pemimpin itu adalah orang yang memiliki kekuasaan, pemimpin adalah orang yang memerintah, dan pemimpin adalah orang yang berhak mendapat keuntungan dari kedudukannya. Ada 3 aspek yang harus kita jalani agar kita menjadi seoran pemimpin yaitu:
a)      Pemimpin itu harus menjadi pelayan:
Seorang yang ingin menjadi pemimpin dia harus terlebih dahulu menjadi pelayan, menjadi pelayan juga mengajarkan kita untuk menguasai diri
b)      Pemimpin sebagai hamba
Untuk menjadi seorang pemimpin kita harus memiliki kredibilitas seorang hamba
c)      Pemimpin sebagai orang yang memberi
Jika anda ingin menjadi seorang pemimpin konsep yang utama yaitu bagaimana memberi sesuatu?bukan bagaimana kita mandapatkan sesuatu.

Pemimpin adalah orang yang bisa mengarahkan,tahu apa yang anda kerjakan, bagaimana mangerjakan, dan bagaimana untuk memberi tahukan orang untuk mengerjakannya. Ada beberapa tipe atau gaya kepemimpinan yaitu:
Ø  Kepemimpinan yang memaksa (Coercive)
Pemimpin yang memaksa yaitu pemimpin yang hanya menyuruh bahawannya mematuhi semua perkataannya (just do what I say),tanpa memikirkan kondisi bawahannya. Pemimpin yang mempunyai kreteria memaksa hanya dapat berhasil didalam kondisi tertentu (darurat, dalam kondisi memaksa).
Ø  Kepemimpinan yang otoriter (authoritarian)
Yaitu pemimpin yang memberikan paksaan kepada bawahannya, pemimpin yang selalu mencerminkan sikap yang otoriter
Ø  Kepemimpinan yang domokrasi
Yaitu pemimpin yang menomor satukan pendapat para pegawainya, namun dalam kondisi ini anda akan sering mengadakan rapat namun jarang mendapatkan solusi dalam masalah yang sedang dihadapi karena pemimpin anda menomor satukan pendapat bawahannya, pendapat ada yang sama dan ada yang menentang jadi sulit medapatkan solusi.
Ø  Kepemimpinan yang dapat menentukan langkah (Pace setting)
Pemimpin yang seperti ini adalah pemimpin yang mengharuskan anda kerja berdasarkan waktu yang mengharuskan anda selesai menyelesaikan tugas tepat waktu
Ø  Kepemimpinan yang melatih (coaching)
Pemimpin yang melatih anda untuk bisa melakukan sesuatu, tetapi tipe kepemimpinan yang seperti ini tidak bisa digunakan pada saat mendesak.

3.      Jelaskan metode dalam menangani konflik dan jelaskan yang paling sering digunakan oleh pemimpin? Berikan contoh konkrit.
Jawab:
Beberapa cara untuk mengatasi konflik menurut Nader and Todd, dalam salah satu bukunya, The Disputing Process Law In  Ten Societies, yaitu :
§  Bersabar ( Lumping )
yaitu suatu tindakan yang merujuk pada sikap yang mengabaikan konflik begitu saja atau dengan kata lain isu- isu dalam konflik itu mudah untuk diabaikan, meskipun hubungan dengan orang yang berkonflik itu berlanjut, karena orang yang berkonflik kekurangan informasi atau akses hukumnya tidak kuat.
§  Penghindaran ( Avoidance )
yaitu suatu tindakan yang dilakukan untuk mengakhiri hubungannya dengan cara meninggalkan konflik, didasarkan pada perhitungan bahwa konflik yang terjadi atau dibuat tidak memiliki kekuatan secara sosial, ekonomi dan emosional.
§  Kekerasan atau paksaan ( Coercion )
yaitu suatu tindakan yang diambil dalam mengataasi konflik jika dipandang bahwa dampak yang ditimbulkan membahayakan.
§  Negosiasi ( Negotation )
ialah tindakan yang menyangkut pandangan bahwa penyelesaian konflik dapat dilakukan oleh orang- orang yang berkonflik secara bersama – sama tanpa melibatkan pihak ketiga. Kelompok tidak mencari pencapaian solusi dan term satu aturan, tetapi membuat aturan yang dapat mengorganisasikan hubungannya dengan pihak lain.
§  Konsiliasi ( Conciliation )
yaitu tindakan untuk membawa semua yang berkonflik kemeja perundingan. Konsiliator tidak perlu memeinkan secara aktif satu bagian dari tahap negosiasi meskipun ia mungkin bisa melakukannya dalam batas diminta oleh yang berkonflik. Konsiliator sering menawarkan konstektual bagi adanya negosiasi dan bertindak sebagai penengah.
§  Mediasi ( Mediation )
hal ini menyangkut pihak ketiga yang menangani/ membantu menyelesaikan konflik agar tercapai persetujuan.
§  Arbritasi ( Arbritation )
kedua belah pihak yang berkonflik setuju pada keterlibatan pihak ketiga yang memiliki otoritas hokum dan mereka sebelumnya harus setuju untuk menerima keputusannya.
§  Peradilan ( Adjudication )
hal ini merujuk pada intervensi pihak ketiga yang berwenang untuk campur tangan dalam penyelesaian konflik, apakah pihak- pihak yang berkonfllik itu menginginkan atau tidak.

4.      Jelaskan teori tentang gaya kepemimpinan yang efektif dalam aktivitas pengambilan keputusan dimana terdapat suatu kondisi para karyawan yang belum begitu lama direkrut dan kurang paham tentang tugas yang menjadi tanggung jawabnya?
Jawab:
      Kepemimpinan demokratis menempatkan manusia sebagai faktor utama dan terpenting dalam setiap kelompok/organisasi. Gaya kepemimpinan demokratis diwujudkan dengan dominasi perilaku sebagai pelindung dan penyelamat dan perilaku yang cenderung memajukan dan mengembangkan organisasi/kelompok. gaya ini diwarnai dengan usaha mewujudkan dan mengembangkan hubungan manusiawi (human relationship) yang efektif, berdasarkan prinsip saling menghormati dan menghargai antara yang satu dengan yang lain. Sehingga dalam mengambil keputusan suatu kondisi para karyawan yang kurang paham tentang tugas yang menjadi tanggung jawabnya dapat merasakan aman tidak dikekang dalam tugas yang belum dimengertinya.
5.      Jelaskan teori kepemimpinan dengan model jalur tujuan?
Jawab:
      Model kepemimpinan jalur tujuan (path goal) menyatakan pentingnya pengaruh pemimpin terhadap persepsi bawahan mengenai tujuan kerja, tujuan pengembangan diri, dan jalur pencapaian tujuan. Dasar dari model ini adalah teori motivasi eksperimental. Model kepemimpinan ini dipopulerkan oleh Robert House yang berusaha memprediksi ke-efektifan kepemimpinan dalam berbagai situasi.
Menurut Path-Goal Theory, dua variabel situasi yang sangat menentukan efektifitas pemimpin adalah karakteristik pribadi para bawahan/karyawan dan lingkungan internal organisasi seperti misalnya peraturan dan prosedur yang ada. Walaupun model kepemimpinan kontingensi dianggap lebih sempurna dibandingkan  model-model sebelumnya dalam memahami aspek kepemimpinan dalam organisasi, namun demikian model ini belum dapat menghasilkan klarifikasi yang jelas tentang kombinasi yang paling efektif antara karakteristik pribadi, tingkah laku pemimpin dan variabel situasional.

6.      Hal-hal apakah yang perlu diperhatikan oleh seorang pemimpin untuk dapat menentukan teknik dan strategi yang tepat dalam pembinaan awal bawahannya?
Jawab:
Hal-hal yang perlu diperhatikan pemimpin dalam membina bawahannya:
  1. Tingkatkan dan kembangkan potensi diri dan profesionalisme bawahan secara sistematis disertai fasilitas-fasilitas yang disediakan untuk itu
  2. Pahami keluhan dan pendapat atau saran-saran dari bawahan
  3. Berikanlah bawahan informasi yang memadai (jangan setengah-setengah) dalam hal member instruksi atau hal lainnya
  4. Jangan mengecam bawahan di depan orang lain
  5. Berikan perhatian pada pekerjaan bawahan
  6. Berilah penghargaan atau hadiah pada bawahan yang berprestasi baik
  7. Bertanggung jawab penuh terhadap kesalahan “komplikasi”, “berantai” atau “terpadu”, jangan melemparkan kesalahan pada bawahan
  8. Bantulah bawahan jika menghadapi kesukaran atau kesulitan dalam pekerjaan maupun kehidupannya.
7.      Jelaskan aplikasi-aplikasi sumber-sumber kekuasaan, tingkat kematangan, dan gaya kepemimpinan guru yang tepat digunakan dalam proses belajar mengajar. Uraian harap disertai dengan contoh yang kongkrit.
Jawab:

        Menurut Muhibbin Syah (2006:253) dengan menambahkan satu lagi gaya kepemimpinan guru menurut Barlow (1985) yaitu otoritatif maka gaya kepemimpinan guru dalam proses belajar mengajar ada empat macam yaitu:
·         Otoriter (authoritarian), secara harfiah, otoriter berarti berkuasa sendiri atau sewenang-wenang. Dalam PBM, guru yang otoriter selalu mengarahkan dengan keras segala aktivitas para siswa tanpa dapat ditawar-tawar. Hanya sedikit sekali kesempatan yag diberikan kepada siswa untuk berperan-serta memutuskan cara terbaik untuk kepentingan belajar mereka. Memang diakui, kebanyakan guru yang otoriter dapat menyelesaikan tugas keguruannya secara baik, dalam arti sesuai dengan rencana. Namun guru semacam ini sangat sering menimbulkan kemarahan dan kekesalan para siswa khususnya siswa pria, bukan saja karena wataknya yang agresif tetapi juga karena merasa kreativitasnya terhambat.
·         Laissez faire, guru laissez faire, padannya adalah individualisme (faham yang menghendaki kebebasan pribadi). Guru yang berwatak ini biasanya gemar mengubah arah dan cara pengelolaan PBM secara seenaknya, ia tidak menmyenangi profesinya sebagai tenaga pendidik meskipun mungkin memiliki kemampuan yang memadai. Keburukan lain yang juga disandang adalah kebiasaan rutinnya menimbulkan pertengkaran-pertengkaran kecil.
·         Demokratis (democratic), arti demokratis adalah bersifat demokrasi, yang pada intinya mengandung makna memperhatikan persaamaan hak dan kewajiban semua orang. Guru yang memiliki sifat ini pada umumnya dipandang sebagai guru yang paling baik dan ideal. Alasannya, dibanding dengan guru-guru lainya guru ragam demokratis lebih suka bekerja sama dengan rekan-rekan seprofesinya, namun tetap menyelesaikan tugasnya secara mandiri. Ditinjau dari sudut hasil pengajaran, guru yang demokratis dengan yang otoriter tidak jauh berbeda. Akan tetapi, dari sudut moral, guru yanng demokratis ternyata lebih baik dan karenanya ia lebih disenangi baik oleh rekan-rekan sejawatnya maupun oleh siswanya sendiri.
·         Otoritatif (authoritative), otoritatif berarti berwibawa karena adanya kewenangan baik berdasarkan kemampuan maupun kekuasaan yang diberikan. Guru yang otoritatif adalah guru yang memiliki dasar-dasar pengetahuan baik pengetahuan bidang studi vaknya maupun pengetahuan umum. Guru seperti ini biasanya ditandai oleh kemampuan memerintah secara efektif kepada para siswa dan kesenangan mengajak kerjasama dengan para siswa bila diperlukan dalam mengiktiarkan cara terbaik untuk menyelenggarakan PBM. Dalam hal ini, ia hampir sama denga guru yang demokratis. Namun, dalam hal memerintah atau memberi anjuran, guru yang otoritatif pada umumnya lebih efektif, karena lebih disegani oleh para siswa, dan di pandang sebagai pemegang otoritas ilmu pengetahuan vaknya seperti yang telah di uraikan di muka.
§  Guru otoriter (Authoritarian) memiliki ciri: berwatak otoriter (sewenang-wenang), keras dan kaku dalam mengarahkan aktivitas PBM dan menghambat kebebasan akademis siswa.
§  Guru laissez faire memiliki ciri: berwatak individualistis (mementingkan diri sendiri), sering mengubah aktivitas PBM secara seenaknya dan sering menimbulkan pertengkaran.
§  Guru demokratis memiliki ciri: berwatak sangat demokratis, suka bekerja sama dengan rekan-rekan sejawat dan para siswa, sering memberikan peluang akademis kepada siswa.
§  Guru Otoritatif memiliki ciri: berwatak cukup demokratis, lebih berwibawa dari pada ragam guru ke-1, ke-2, dam ke-3 dan lebih disegani para siswa dan lebih efektif dalam memerintah dan memberi anjuran.


0 komentar:

Poskan Komentar

“Komentarnya yang membangun, yaa”.

 
KeluarJangan Lupa Klik Like Dan Follow ya!

Receive all updates via Facebook. Just Click the Like Button Below

Powered By Blogger Widgets

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...